Pelajaran 6, Kegiatan 2
Sedang berlangsung

Kuliah

Pelajaran Progress
0% Menyelesaikan
00:00 /

Setelah empat ratus tahun anarki, ketika “tidak ada raja di Israel; [dan] setiap orang melakukan apa yang benar menurut pandangannya sendiri” (Hakim-Hakim 21:25), Israel menuntut seorang raja. Israel telah menolak pemerintahan Allah, tetapi Allah memberi mereka, raja-raja yang memerintah mereka selama empat abad berikutnya.

Empat kitab “waktu” menceritakan kisah kerajaan Israel: 1 dan 2 Samuel dan 1 dan 2 Raja-Raja. Tidak ada kitab ”warna” di era Kerajaan, tetapi sejumlah besar literatur yang ada menambahkan warnanya. Sebagian besar literatur puisi dan kebijaksanaan Israel dihasilkan pada saat ini, dan tiga belas dari enam belas nabi Israel menulis sementara para raja memerintah di Israel. 1 dan 2 Tawarikh, meskipun ditulis lebih dari seabad setelah era Kerajaan, adalah sebuah kisah keturunan kerajaan Daud. Ratapan adalah sebuah ratapan atas Yerusalem dan disusun pada akhir era Kerajaan.

Rangkuman dari Era Kerajaan

Orang-orang hebat hidup dan peristiwa-peristiwa besar terjadi di era Kerajaan. Kisah-kisah Daud dan Goliat serta Daud dan Batsyeba menandai ketinggian dan kedalaman raja terbesar Israel. Ikatan perjanjian dengan Daud menjanjikan seorang Mesias. Bait suci Salomo dibangun dan dihancurkan selama periode raja-raja Israel. Israel terpecah dengan sendirinya dan menciptakan dua kerajaan. Sebagian besar literatur puitis dan hikmat Israel ditulis dan para nabi-Nya melayani dan menulis, sementara para raja memerintah. Kembalinya Israel secara kepada perbudakan di bawah raja non-Yahudi menutup masa sejarahnya.

Gagasan besar dari era kerajaan adalah bahwa bahkan di bawah raja-raja manusia, Allah masih memerintah Israel dengan formula berkat dan kutuk yang ditetapkan dalam Hukum-Hukum Kitab Ulangan. Selama berabad-abad, kesabaran Allah menahan penolakan Israel yang konsisten terhadap-Nya dan hukum-hukum-Nya. Akhirnya, karena setia kepada ikatan perjanjian-Nya, Allah melepaskan tangan perlindungan-Nya. Israel jatuh ke tangan orang Asyur dan Yehuda kepada orang Babel. Penulis Samuel dan Raja-raja memiliki tujuan yang jelas, yaitu untuk menunjukkan bahwa kehancuran Israel dan Yehuda adalah akibat dari ketidaktaatan mereka.

Era Kerajaan dibagi menjadi empat periode. Waktu persiapan kerajaan dijelaskan dalam 1 Samuel 1-7. Kemudian waktu periode kerajaan bersatu dengan tiga rajanya (Saul, Daud, dan Salomo) dicatat dalam 1 Samuel 8-1 Raja-Raja 11. Periode ketiga yang menggambarkan kerajaan yang terpecah dicatat dalam 1 Raja-Raja 12-2 Raja-Raja 17. Dan pergerakan keempat, yang menceritakan tentang hari-hari terakhir Yehuda, dicatat dalam 2 Raja-Raja 17-25. Pada 586 SM, Babel menghancurkan Yerusalem, ibu kota Yehuda, dan membawa warganya kembali ke perbudakan di bawah bangsa non-Yahudi.

Empat Kitab Menceritakan Kisah Era Kerajaan

1 Samuel

1 Samuel 1-7 memberikan transisi dari zaman Hakim-Hakim kepada pengurapan raja pertama Israel. Samuel adalah tokoh penting dalam transisi ini. Dia adalah hakim terakhir, dan dia mengurapi dua raja pertama Israel. Meskipun sering terhilang dalam transisi-transisi yang ada antara hakim-hakim dan raja-raja Israel, Samuel adalah salah satu tokoh utama dalam Alkitab.

Dalam Kejadian 12, Allah berjanji kepada Abraham bahwa suatu bangsa besar akan datang dari keturunannya. Dalam Ulangan 17, Dia memberikan pedoman kepada Israel untuk memilih seorang raja. Allah telah merencanakan untuk seorang raja yang akan memerintah Israel sebagai wakil-Nya. Akan tetapi, Israel lelah dengan kekacauan yang mereka alami selama masa hakim-hakim. Ancaman invasi berkelanjutan dari bangsa sekitar mereka menyerukan persatuan di antara suku-suku Israel. Israel mengira mereka sedang ditindas karena mereka tidak memiliki raja, padahal kenyataannya mereka ditindas karena mereka telah menolak Yahweh sebagai raja mereka.

Permintaan Israel dalam 1 Samuel 8:5 merangkumkan keinginan mereka akan seorang raja. Mereka berkata kepadanya: “Engkau sudah tua dan anak-anakmu tidak hidup seperti engkau; maka angkatlah sekarang seorang raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain.” Ketika Samuel menolak permintaan mereka, TUHAN berfirman kepada Samuel: “Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka” (1 Samuel 8:7). Ketidakselarasan antara janji Allah untuk memberi Israel seorang raja dan ketidaktaatan mereka dalam menuntut seorang raja adalah sebuah masalah perbedaan niat. Allah bermaksud bahwa mereka memiliki perwakilan manusia dari pemerintahan-Nya, tetapi Israel menginginkan raja militer seperti yang dimiliki bangsa sekitar mereka.

1 Samuel dibuka dengan kelahiran Samuel dan berakhir dengan kematian Saul. Kitab ini mencatat pengurapan Saul sebagai raja pertama Israel dan keberhasilan awal dan kegagalannya kemudian. 1 Samuel juga memperkenalkan Daud sebagai raja Israel berikutnya dan terhebat. Tujuan kitab ini adalah untuk menggambarkan bagaimana kerajaan Israel muncul, dan gagasan besarnya adalah bahwa Allah tidak meninggalkan Israel, bahkan ketika Israel menolak-Nya.

2 Samuel

2 Samuel adalah tentang Daud dan 5:4-5 memberikan sebuah rangkuman dari masa pemerintahannya, ““Daud berumur tiga puluh tahun, pada waktu ia menjadi raja; empat puluh tahun lamanya ia memerintah. Di Hebron ia memerintah atas Yehuda tujuh tahun enam bulan, dan di Yerusalem ia memerintah tiga puluh tiga tahun atas seluruh Israel dan Yehuda.” Dalam pasal 6 Daudd membangun kembali takhta Yahweh di Israel dengan memindahkan tabut perjanjian ke Yerusalem, ibu kota baru Daud. Pasal 7 mencatat ikatan perjanjian Allah dengan Daud, yang menjanjikan bahwa salah seorang ahli warisnya akan duduk di atas takhta Israel selamanya. Matius mencatat ikatan perjanjian itu ketika ia membuka Injilnya dengan “Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham” (Matius 1:1). Jadi dalam pasal 6, Daud menegakkan pemerintahan Yahweh atas Israel dan dalam pasal 7 Yahweh menetapkan takhta Daud.

Ada dua bagian dari kisah Daud. 1 Samuel 16-2 Samuel 10 mencatat keberhasilannya yang luar biasa dan pemerintahannya yang efektif sebagai raja yang mewakili Allah. Akan tetapi dalam 2 Samuel 11, dosa-dosa Daud terkait Batsyeba dan Uria menandakan permulaan dari masalah-masalh Daud. Bahkan Raja Daud yang agung, seorang lelaki yang berkenan pada hati Allah, tidak kebal dari hukum-hukum berkat dan kutukan dalam Kitab Ulangan. Allah mengampuni dosa Daud, tetapi hidupnya seperti yang dijelaskan dalam 2 Samuel 11 hingga kematiannya dalam 1 Raja-Raja 2 dipenuhi dengan kesulitan-kesulitan dan pergumulan-pergumulan.

Gagasan besar 2 Samuel adalah bahwa tidak ada yang kebal dari penghakiman Allah. Ketika Daud dengan setia mengikuti Allah, Allah memberkatinya. Akan tetapi ketika Daud tidak menaati Allah, dia membayar harga yang sangat mahal. Salah satu tujuan kitab ini adalah untuk memperingatkan para pembacanya bahwa Allah mengampuni orang berdosa, tetapi tidak menghilangkan konsekuensi-konsekuensi dosa.

1 Raja 1-11 dan Salomo

1 Raja-Raja 1-11 mencatat pemerintahan Salomo. Pasal 3 menggambarkan cinta Salomo kepada Allah sebagai dasar dari pemerintahannya. Dalam pasal 3 dan 4, dia meminta hikmat dari Allah sehingga dia akan memerintah umat Allah dengan baik. Pasal 5–8 mencatat bagaimana Salomo membangun bagi Allah, sebuah bait suci yang luar biasa. Kemuliaan, kekayaan, dan kebijaksanaan Salomo dijelaskan dalam pasal 9 dan 10. Dia adalah segala yang diinginkan Daud terhadap pewaris takhta Israel.

Akan tetapi, seperti Daud, ia tidak berakhir sebaik yang ia mulai, dan pasal 11 mengungkapkan perubahan tragis dalam kisah Salomo.

Sebab itu TUHAN menunjukkan murka-Nya kepada Salomo, sebab hatinya telah menyimpang dari pada TUHAN, Allah Israel, yang telah dua kali menampakkan diri kepadanya, dan yang telah memerintahkan kepadanya dalam hal ini supaya jangan mengikuti allah-allah lain, akan tetapi ia tidak berpegang pada yang diperintahkan TUHAN. Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Salomo: “Oleh karena begitu kelakuanmu, yakni engkau tidak berpegang pada perjanjian dan segala ketetapan-Ku yang telah Kuperintahkan kepadamu, maka sesungguhnya Aku akan mengoyakkan kerajaan itu dari padamu dan akan memberikannya kepada hambamu (1 Raja-Raja 11:9-11).

1 Raja-Raja 12 sampai 2 Raja-Raja 25 dan Kerajaan Israel yang Terpecah

Salomo telah menabur benih-benih kehancuran Israel, dan Allah mengambil sebagian besar kerajaan Daud jauh dari Rehobeam, putra Salomo. Allah menjelaskan kepada Salomo bagaimana Ia dapat mengoyakkan kerajaan dari putra Salomo tanpa melanggar perjanjian yang telah dibuatnya dengan Daud: “Namun demikian, kerajaan itu tidak seluruhnya akan Kukoyakkan dari padanya, satu suku akan Kuberikan kepada anakmu oleh karena hamba-Ku Daud dan oleh karena Yerusalem yang telah Kupilih” (1 Raja-Raja 11:13). Untuk mendisiplin Salomo karena ketidaktaatannya dan untuk menepati janji-Nya kepada Daud, Allah akan membuat dua kerajaan. Kerajaan satu terdiri dari sepuluh suku utara Israel dan mempertahankan nama Israel. Mereka memiliki seorang raja yang terpisah, seorang pria bernama Yerobeam. Akan tetapi, dinasti Daud berada di negara yang lebih kecil yang terdiri dari suku Yehuda dan Benyamin dan disebut Yehuda. Putra Salomo, Rehobeam akan menjadi raja pertama kerajaan selatan.

Maka dari 931 hingga 722 SM ketika Asyur menghancurkan Samaria, ibu kota Israel, keturunan Abraham hidup sebagai dua kerajaan. Setelah 722 Yehuda masih eksis, tetapi terus-menerus diusik oleh Asyur dan Babel, sampai 586 ketika Nebukadnezar menghancurkan ibu kota Yehuda di Yerusalem.

Rangkuman dari Era Kerajaan

Israel memiliki dua puluh raja dan Yehuda memiliki sembilan belas raja dan satu ratu. Tidak ada raja Israel yang mengikuti Allah. Faktanya, raja pertamanya, Yerobeam, memperkenalkan berhala-berhala ke dalam ibadat Israel dengan mendirikan dua altar di Israel. 2 Raja-Raja mencatat dua puluh satu waktu yang berbeda ketika Yerobeam menyebabkan Israel berbuat dosa. Yehuda bernasib sedikit lebih baik. Dari dua puluh raja, tercatat delapan dari mereka melayani Yahweh. Akan tetapi, delapan dari dua puluh raja itu merupakan skandal bagi negara dengan sejarahnya. Israel bertahan selama 210 tahun, dari 931 hingga 722 SM. Yehuda bertahan 345 tahun, dari 931 hingga 586 SM. Israel memiliki sembilan keluarga yang berbeda dan Yehuda hanya memiliki satu, dinasti Daud. Bahwa kepemimpinan kedua kerajaan itu kacau-balau terlihat dari fakta bahwa raja-raja Israel mengalami tujuh pembunuhan, satu bunuh diri, dan satu raja yang “dihalau Allah.” Yehuda mengalami lima pembunuhan, dua raja yang “dihalau Allah,” dan tiga raja yang diasingkan ke negeri asing. Sungguh akhir yang tragis bagi keturunan Abraham setelah awal yang begitu mulia!

Selama masa sedih ini di Israel dan Yehuda, para nabi Allah menjadi lebih menonjol. Mereka memarahi, memohon, dan berunding dengan orang Israel dan Yehuda untuk bertobat dari penyembahan berhala dan menyembah Yahweh. Hanya Dia yang bisa menyelamatkan mereka dari musuh-musuh mereka — dan diri mereka sendiri — dan mengembalikan Israel ke kemuliaan yang dikenalnya di bawah Daud dan Salomo.

Gagasan besar dari 1 Raja-Raja 12-2 Raja-Raja 25 adalah bahwa sampai akhir sejarah Israel, Allah tidak pernah goyah dari ikatan perjanjian yang Dia tetapkan dalam Ulangan. Israel menerima penghukumannya. Akan tetapi, malapetaka itu bukanlah akibat dari kurangnya kasih atau kesabaran Allah. Kita akan mempelajari para nabi dalam pelajaran 10 dan melihat bagaimana mereka dengan jelas menekankan keinginan Allah untuk membangun kembali hubungan-Nya dengan umat-Nya yang memberontak. Dalam belas kasih dan kasih, Allah menunggu umat-Nya yang tidak taat untuk bertobat dan kembali kepada-Nya. Apa yang benar bagi Israel masih berlaku sampai sekarang bagi kita. Allah kita yang tidak berubah ingin kita berbalik kepada-Nya.