Pelajaran 2, Kegiatan 2
Sedang berlangsung

Kuliah

Pelajaran Progress
0% Menyelesaikan
00:00 /

I. Kisah Perjanjian Lama

Banyak orang merasa Perjanjian Lama sulit dibaca. Mereka menikmati kisah-kisah Musa dan Simson serta Ester dan Rut. Mereka terbiasa dengan bait suci dan tabernakel, dan mereka mengenali nama-nama tempat seperti Sinai, Yerusalem, dan Babel. Akan tetapi, bagi mereka nama-nama dan tempat-tempat yang familier ini sulit untuk dirangkai menjadi satu.

Memahami Perjanjian Lama adalah, bagi banyak orang, seperti meletakkan sebuah potongan bergambar bersama tanpa gambar besaran dari potonga-potongan tersebut. Mereka memiliki potongan Musa dan bertanya-tanya gambar siapa yang harus mereka taruh di sebelahnya. Bagaimana dia berhubungan dengan Simson atau Ester atau Rut? Atau apakah dia berhubungan dengan mereka? Pelajaran ini dirancang untuk melukis gambar Perjanjian Lama sehingga Anda akan tahu bagaimana menyatukan kisah-kisah individu sedemikian rupa sehingga gambar besar Anda cocok dengan gambar besar Perjanjian Lama.

A. Kitab-Kitab Perjanjian Lama

Salah satu alasan orang menjadi bingung oleh Perjanjian Lama adalah karena mereka mencoba membacanya seperti sebuah buku sejarah atau novel. Jenis-jenis buku ini dimulai dari awal dan diakhiri di akhir. Akan tetapi, Perjanjian Lama tidak diatur seperti demikian. Tiga puluh sembilan kitab dalam Perjanjian Lama disusun, malahan, berdasarkan jenis sastra yang terkandung kitab-kitab itu. Penting untuk mengetahui ada tiga jenis kitab dalam Perjanjian Lama.

Tujuh belas kitab pertama, dari Kejadian hingga Ester, sebagian besar ditulis sebagai narasi. Mereka menceritakan kisah Perjanjian Lama dan disusun seperti bab-bab dalam sebuah buku sejarah.

Tetapi setelah kitab Ester, kita masuk ke dalam dunia dari lima kitab puisi dan hikmat dalam Perjanjian Lama. Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, dan Kidung Agung tidak memberi tahu kita tentang sejarah Israel. Mereka menyajikan puisi-puisi yang indah dan tulisan-tulisan hikmat Israel.

Setelah Kidung Agung, kita mulai membaca tujuh belas kitab nubuat Israel. Yesaya melalui Maleakhi merekam pesan para nabi Israel.

Jadi Perjanjian Lama berisi tujuh belas kitab narasi, lima puisi dan hikmat, dan tujuh belas kitab tulisan nubuatan. Dalam pelajaran 2 dan 3, kita akan mempelajari hubungan antara tiga puluh sembilan kitab ini sehingga kita dapat lebih memahami bagaimana Perjanjian Lama disusun.

Kemudian dalam pelajaran 4 hingga 10, kita akan menjelajahi kitab-kitab ini dengan sedikit lebih detail. Akan tetapi sebelum masuk ke detail dari kitab-kitab Perjanjian Lama, penting bagi kita untuk memahami cara kerja Perjanjian Lama. Dalam pelajaran ini, kita akan melukis gambar Perjanjian Lama sehingga kita dapat menemukan di mana masing-masing bagian dari teka-teki Perjanjian Lama berada.

B. Kisah Perjanjian Lama

Mari kita perbaiki alur cerita Perjanjian Lama dalam pikiran kita. Hanya dengan begitu kita dapat melihat di mana para penyair dan nabi Perjanjian Lama dengan selaras dan memahami mereka. Kami mengatakan bahwa kisah Perjanjian Lama diceritakan dalam tujuh belas kitab pertama dari tiga puluh sembilan kitab Perjanjian Lama, dan hal itu penting untuk diketahui. Akan tetapi, kita akan membuat sebuah perbedaan lebih lanjut di sini dengan membagi tujuh belas cerita atau kitab naratif menjadi dua kategori.

Meskipun semua tujuh belas kitab berkontribusi pada cerita, hanya sebelas dari tujuh belas kitab yang menggerakan cerita ke depan. Enam kitab lainnya memasukkan peristiwa-peristiwa penting yang menambahkan detail-detail dari alur utama. Jika Anda mendengarkan seorang penutur cerita yang terus-menerus menyimpang dan membiarkan cerita macet dengan terlalu banyak detail, maka Anda akan dapat menghargai perbedaan antara kitab-kitab yang membuat cerita terus bergerak dan yang menambahkan detail-detail yang penting, tetapi tidak berkontribusi kepada progres cerita.

Untuk gol-gol dari pelajaran ini, kita akan menyebut kitab yang menggerakkan cerita ke depan sebagai kitab-kitab “waktu” dan kitab-kitab yang menambah komentar pada cerita sebagai kitab-kitab “warna.” Misalnya, Keluaran adalah sebuah kitab “waktu” (menggerakkan cerita ke depan). Kitab ini memberi tahu kita tentang peristiwa di Sinai di mana Musa menerima Hukum Allah. 613 hukum ini penting untuk kehidupan Israel dan perlu dituliskan untuk mereka — dan untuk kita. Akan tetapi, Keluaran adalah sebuah kitab narasi (sebuah cerita). Jadi, Musa tidak mendaftarkan dan menjelaskan semua hukum itu dalam Keluaran. Dia menempatkan mereka dalam sebuah kitab terpisah yang disebut Imamat, yang menambahkan detail-detail penting pada kisah Sinai. Kitab ini memberikan “warna” untuk peristiwa-peristiwa yang dicatat dalam Keluaran. Akan tetapi, kitab tersebut tidak memajukan cerita secara kronologis dan bisa membuat para pembaca terhenti karena mereka tidak pernah menyelesaikan kisah yang diceritakan Musa tentang penyelamatan dari Mesir dan peristiwa-peristiwa di Gunung Sinai. Karena pelajaran ini dirancang untuk memberi kita gambaran besar Perjanjian Lama, maka kami akan menyimpan ulasan-ulasan kami tentang kitab-kitab “warna” untuk pelajaran 3 dan hanya akan melihat kitab-kitab “waktu” dalam pelajaran ini.

C. Kitab-Kitab Waktu

Mari kita tinjau lagi. Ada 17 kitab yang menceritakan kisah Perjanjian Lama. Kita menyebutnya kitab-kitab cerita atau narasi. Dan kemudian kita membagi kitab-kitab naratif yang menceritakan kisah Perjanjian Lama ke dalam dua kategori. Kitab-kitab “waktu” yang menggerakkan cerita ke depan dan kitab-kitab “warna” yang menambah detail-detail cerita. Sebelas kitab “waktu” disambungkan seperti sebuah gulungan film. Satu kitab mengambil cerita di mana buku sebelumnya berhenti. Namun secara berkala cerita ini membutuhkan elaborasi atau penjelasan. Hal itu seperti seolah-olah Penutur Cerita yang Agung berkata, “Tunggu sebentar di sini. Ada beberapa informasi penting yang perlu kita tambahkan ke dalam cerita, tetapi saya tidak ingin memperlambat narasi dengan terlalu banyak detail.” Daripada menghentikan cerita, Allah hanya menambahkan kitab lain yang memberi kita detail-detailnya. Jadi kita memiliki kitab-kitab “waktu” dan kitab-kitab “warna” yang menceritakan kisah Perjanjian Lama. Dalam pelajaran ini, kita hanya akan berfokus pada kitab-kitab waktu sehingga kita dapat memahami cerita utama. Dalam pelajaran 3, kita akan menghubungkan kitab-kitab warna, kitab-kitab puisi, dan nubuatan ke dalam cerita dan melihat bagaimana mereka berkontribusi. Akan tetapi, pertama-tama kita akan melukis gambar teka-teki itu sehingga kita bisa memasukkan semua potongan yang ke dalam tempatnya yang tepat.

II. Empat Era dari Perjanjian Lama

Kisah Perjanjian Lama dapat dibagi menjadi empat periode waktu atau era.

Kita menyebut periode pertama era Awal, dan termasuk tiga kitab waktu di dalamnya: Kejadian, Keluaran, dan Bilangan.

Era kedua dijelaskan dalam Yosua dan Hakim-Hakim dan disebut era Pendudukan.

Ketiga adalah era Kerajaan, dan dicatat dalam 1 dan 2 Samuel dan 1 dan 2 Raja-Raja.

Di akhir 2 Raja-Raja, Israel ditaklukkan oleh Babel. Tembok dan bait suci Yerusalem dihancurkan dan rakyatnya dibawa ke Babel sebagai budak. Tujuh puluh tahun kemudian mereka dibebaskan oleh Persia dan diizinkan untuk kembali dan membangun kembali bait suci mereka, kota mereka, dan kehidupan mereka. Periode keempat dari kisah Perjanjian Lama disebut era Pembuangan dan Rekonstruksi dan dicatat dalam kitab Ezra dan Nehemia.

Hal itu adalah sebuah pandangan umum yang sangat luas tentang kisah Perjanjian Lama dengan empat pembagian atau era: Awal, Pendudukan, Kerajaan, dan Pembuangan/Rekonstruksi. Sekarang kita memiliki gambaran besar, mari kita telusuri lagi dan tambahkan sedikit detail. Kita akan mempelajari masing-masing era ini dengan lebih saksama dalam pelajaran 4 hingga 10. Namun penting dalam pelajaran ini untuk mendapatkan gambaran yang lebih besar dalam pikiran kita. Jika pelajaran Dasar-Dasar Perjanjian Lama ini menarik minat Anda, Anda harus mempertimbangkan untuk mengambil pelajaran-pelajaran lebih detail yang diajarkan oleh Dr. Douglas Stuart. (Pelajaran, OT216-OT227 yang tercantum dalam katalog CUGN.)

A. Awal

Kejadian berarti “permulaan,” dan kitab ini memberi tahu kita bahwa segala sesuatu dimulai dengan tindakan penciptaan Allah.

Kitab ini dibuka dengan hanya dengan perkataan, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Pasal 1-11 memberi tahu kita bagaimana Allah menciptakan alam semesta dan dunia serta manusia pertama. Bagian in juga menggambarkan masuknya dosa ke dalam kehidupan manusia dan akibatnya yang tragis. Kisah Nuh dimasukkan di sini untuk menunjukkan seberapa kuat pemberontakan manusia terhadap Allah.

Kemudian Kejadian 12-50 menggambarkan permulaan Israel. Abraham, Ishak, dan Yakub disebut sebagai patriark, atau para bapa dari orang Yahudi. Keseluruhan dari kisah Perjanjian Lama terutama tentang hubungan Allah dengan Israel, dan kisah itu dimulai dalam Kejadian 12. Kitab Kejadian berakhir dengan keturunan Abraham yang tinggal di Mesir sebagai para pendatang yang disukai Firaun.

Keluaran adalah kitab “waktu” kedua yang menggerakkan kisah Perjanjian Lama. Selama 400 tahun antara akhir Kejadian dan awal Keluaran, keturunan Abraham telah diperbudak oleh orang Mesir dan ingin keluar dari Mesir. Allah mempersiapkan seorang pembebas bernama Musa yang, setelah serangkaian tulah di Mesir, memimpin Israel keluar dari Mesir, menyeberangi Laut Merah, dan turun ke Gunung Sinai. Di sana mereka menerima Sepuluh Perintah dan 613 hukum lainnya dari Allah yang mengatur hidup mereka di sepanjang Perjanjian Lama.

Kitab “waktu” ketiga adalah Bilangan, dan dibuka dengan Israel di Sinai menunggu perintah Allah untuk bergerak ke tanah Kanaan. Ketika Allah membawa mereka ke jalan masuk Kanaan, mereka menolak untuk masuk karena mereka takut dengan orang-orang yang tinggal di sana. Bilangan menceritakan kisah sedih Israel yang mengembara di padang belantara selama empat puluh tahun, memakan manna yang disediakan oleh Allah sementara generasi Israel yang tidak patuh yang keluar dari Mesir mati di padang gurun Sinai. Mereka memohon kepada Allah agar tidak membuat mereka memasuki Kanaan, dan jawaban-Nya atas doa mereka mengutuk mereka untuk hidup tanpa tujuan di padang pasir Sinai. Ketika Bilang berakhir, anak-anak dari mereka yang menolak untuk memasuki Kanaan telah tumbuh menjadi dewasa dan siap untuk memasuki tanah yang telah Allah janjikan kepada orang tua mereka dan untuk hidup kembali sebagai umat Allah.

B. Pendudukan

Yosua dan Hakim-Hakim dirujuk sebagai kitab-kitab dari era Pendudukan. Yosua adalah kitab yang menggambarkan keberhasilan-keberhasilan dan kemenangan-kemenangan Israel ketika mereka menaklukkan tanah baru mereka. Kitab itu menggerakkan cerita ke depan kepada penaklukkan Kanaan oleh Israel dan menjelaskan bagaimana mereka membagi tanah antara dua belas suku dan menetap. Allah membuka Sungai Yordan sehingga mereka bisa menyeberang ke tanah baru mereka di tanah yang kering. Keyakinan mereka akan kehadiran Allah didukung oleh pertempuran supranatural untuk Yerikho. Sama seperti Allah telah memberikan penyelamatan yang ajaib dari Mesir, ia meyakinkan anak-anak-Nya akan kehadiran-Nya dengan jalan masuk yang ajaib ke Kanaan.

Setelah Yosua pemimpin mereka meninggal, orang-orang memberontak melawan hukum Allah. Kitab Hakim-Hakim menggambarkan pemberontakan Israel dan akibat-akibatnya yang tragis. Israel terus menerus melanggar perjanjian mereka dengan Allah, dan Dia membiarkan berbagai bangsa setempat merampas tanah mereka. Setiap kali, Israel akan meminta bantuan kepada Allah dan sebagai tanggapannya Allah akan membangkitkan seorang pembebas atau hakim untuk mengusir musuh. Di Hakim-Hakim, kita membaca kisah-kisah hakim seperti Gideon, Simson, dan Debora.

C. Era Kerajaan

Tema kitab Hakim-Hakim adalah bahwa setiap orang melakukan apa yang benar menurut pandangan mereka sendiri. Kekacauan ini mendorong munculnya keinginan Israel akan seorang raja untuk memerintah mereka dan mengantar era Kerajaan Israel. Samuel adalah hakim terakhir Israel, dan ia memperkenalkan era kerajaan dan mengurapi Saul sebagai raja pertama Israel. 2 Samuel menggambarkan pemerintahan Daud dan hari-hari Israel yang paling mulia. 1 Raja-Raja menceritakan pemerintahan Salomo dan pembangunan bait suci Israel yang indah. Akan tetapi, kitab ini juga memperkenalkan benih-benih kehancuran Israel. Dimulai dari 1 Raja-raja 12 dan seterusnya melalui 2 Raja-Raja kita membaca bagaimana Israel terkoyak dengan sendirinya dan menjadi dua kerajaan, Israel dan Yehuda. Serangkaian raja-raja jahat di Israel dan campuran raja-raja jahat dan saleh di Yehuda akhirnya menyebabkan kehancuran kedua kerajaan tersebut.

D. Pembuangan dan Rekonstruksi

Kekalahan Yehuda oleh Babel termasuk penghancuran Yerusalem dan bait suci Salomo dan deportasi dan perbudakan warganya. Pengasingan mereka berlangsung selama 70 tahun sampai Persia mengalahkan orang Babel. Orang Persia membebaskan orang-orang Yahudi yang tertawan dan menyediakan sumber daya bagi mereka untuk membangun kembali bait suci mereka, tembok kota mereka, dan kehidupan mereka. Kitab Ezra dan Nehemia merekam peristiwa-peristiwa di era rekonstruksi. Dan di sinilah kisah Perjanjian Lama berakhir.

Kesimpulan

Kisah Perjanjian Lama mencakup kesuksesan-kesuksesan yang besar dan kegagalan-kegagalan yang tragis. Ini adalah kisah tentang keterlibatan Allah yang setia dengan umat-Nya. Ini adalah sebuah kisah penyalahgunaan Israel atas kebebasan mereka untuk membuat pilihan. Kisah ini menggambarkan konsekuensi-konsekuensi tragis yang terjadi ketika arahan-arahan dari Allah yang penuh rahmat diabaikan. Akan tetapi bagian terbaik dari kisah ini adalah bahwa pada akhir Perjanjian Lama, Allah tidak mengabaikan janji-janji-Nya kepada umat-Nya. Dia masih mencintai dan dengan sabar merawat mereka — sama seperti Dia memperlakukan kita.