Pelajaran 3, Kegiatan 2
Sedang berlangsung

Kuliah

Pelajaran Progress
0% Menyelesaikan
00:00 /

Ada banyak sekali pertanyaan tentang keandalan Alkitab. Dapatkah saya memercayai Alkitab sebagai dokumen historis yang akurat? Apakah Alkitab sebuah kitab yang sakral—wahyu dari Allah—atau sekadar karangan manusia?

Di era modern, banyak orang memandang Alkitab hanya sebagai kitab biasa di antara kitab-kitab suci lainnya yang diciptakan manusia di sepanjang sejarah panjang obsesi religiusnya. Bahkan, beberapa orang tidak hanya memandang Alkitab sebagai kitab agama biasa, tetapi juga sering kali menyerang keandalan historisnya.

Sebagian besar kecurigaan terhadap Alkitab saat ini berawal dari Abad Pencerahan, sebuah periode kebangkitan intelektual dalam budaya Barat yang dimulai sekitar akhir abad ke-17 dan berlanjut hingga awal abad ke-19. Selama periode tersebut, filsafat Jerman muncul dan membawa pendekatan kritis dalam memahami teks Alkitab. Pendekatan baru ini, yang disebut kritisisme Alkitab, menganjurkan agar teks Alkitab dibaca dan dipahami berdasarkan apa yang diungkapkan oleh studi akademis dari perspektif sejarah, budaya, dan sastra, bukan dari perspektif iman. Pada gilirannya hal itu menyebabkan Alkitab lebih sering dilihat sebagai produk dari sebuah komunitas agama daripada wahyu dari Allah.

Secara historis, pertanyaan terhadap keandalan Alkitab sudah ada jauh sebelum Abad Pencerahan, bahkan sejak tahun-tahun awal gereja. Rasul Petrus membahas sifat Alkitab yang dapat dipercaya dalam suratnya yang kedua, di mana ia mengingatkan para pembacanya bahwa ia tidak mengikuti “dongeng-dongeng isapan jempol manusia” dalam semua yang ia ajarkan, tetapi ia adalah saksi mata dari konfirmasi Bapa atas Yesus dan ajaran-Nya. Karena pernyataan Bapa, “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat. 3:17), Petrus meyakini “firman yang telah disampaikan oleh para nabi”—wahyu Allah kepada manusia—dan mendorong para pembacanya untuk menyimak firman tersebut bagaikan “pelita yang bercahaya di tempat yang gelap” (2Ptr. 1:19). Ia menutup pasal ini dengan berkata, “tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah” (2Ptr.1:21).

Perspektif Petrus tentang Kitab Suci bergema dalam penjelasan Paulus tentang hal yang sama di dalam 2 Timotius 3:16 di mana ia menulis, “Seluruh Kitab Suci diilhamkan Allah.” Istilah yang diterjemahkan menjadi “diilhamkan” (theópneustos) secara harfiah berarti “diembuskan oleh Allah”. Paulus melanjutkan dengan mengatakan bahwa seluruh Kitab Suci “bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran”.

Istilah Kitab Suci dan Alkitab dapat saling dipertukarkan. Bagi Petrus dan Paulus, Alkitab adalah firman Allah kepada manusia dan harus diperlakukan seperti itu. Namun, apa yang kita maksud ketika menggunakan istilah Kitab Suci dan Alkitab?

Apakah Alkitab itu?

Alkitab adalah sebuah cerita terpadu yang terdiri dari 66 kitab, ditulis dalam 3 bahasa (Ibrani, Aram, dan Yunani), oleh kurang lebih 40 penulis dari berbagai latar belakang kehidupan dalam kurun waktu sekitar 1.500 tahun. Isinya mencakup peristiwa-peristiwa sejak penciptaan dunia hingga tahun-tahun awal gereja. Setiap kitab secara unik berkontribusi bagi sebuah tema yang berkesinambungan, yaitu karya penebusan Allah dalam sejarah untuk membawa manusia kembali ke dalam relasi yang benar dengan diri-Nya, yang secara ultima terwujud melalui Yesus, tawaran keselamatan dan karya pendamaian-Nya.

Tiga puluh sembilan kitab pertama dalam Alkitab adalah Kitab Suci orang Ibrani, atau yang biasa disebut Perjanjian Lama. Yesus mengakui bahwa Kitab Suci tersebut diilhamkan dari Allah di dalam Yohanes 5:39, yaitu ketika Ia berkata kepada para pemimpin agama pada zaman-Nya, “Kamu menyelidiki Kitab-Kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa melaluinya kamu memiliki hidup yang kekal. Walaupun Kitab-Kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku.” Dalam pola pikir orang-orang Yahudi abad pertama, sebutan Kitab Suci mencakup tiga puluh sembilan kitab yang sama dengan yang ada dalam Perjanjian Lama saat ini. Dikategorikan ke dalam tiga bagian utama—Taurat, Kitab Para Nabi, dan Sastra—kitab-kitab tersebut merupakan wahyu Allah kepada bangsa Israel. Selain itu, Yesus menegaskan keakuratan sejarah dari beberapa orang dan peristiwa yang dicatat dalam Perjanjian Lama dan mengutip hampir setiap bagiannya secara otoritatif.

Sebagai contoh, Yesus mengonfirmasi fakta tentang Adam dan Hawa (Mat. 19:4-5), Nuh (Mat. 24:37-39), Abraham (Yoh. 8:56), Ishak dan Yakub (Mat. 8:11), Daud (Mat. 12: 1-3), Salomo (Mat. 6:29), Ratu Syeba (Mat. 12:42), Elia (Mat. 17:11), Elisa (Luk. 4:27), Yesaya (Mat. 8:16-17), Zakharia (Luk. 11:49-51), dan Daniel (Mat. 24:15).

Yesus juga mengonfirmasi beberapa peristiwa di dalam Perjanjian Lama seperti kehancuran Sodom dan Gomora (Mat. 10:14-15) dan nasib istri Lot (Luk. 17:32); Musa yang mewariskan tradisi sunat (Yoh. 7:22) dan menerima Hukum Allah (Mat. 8:4); serta Yunus, seorang nabi pembangkang yang ditelan oleh seekor ikan besar (Mat.12:38-41).

Bukti-bukti lain

Ayat-ayat yang disebutkan di atas menunjukkan bagaimana Alkitab menampilkan dirinya sebagai pesan yang dapat dipercaya dari Allah. Selain kesaksian internal Alkitab tentang dirinya, ada beberapa faktor lain yang menegaskan keandalan Alkitab. Faktor-faktor tersebut meliputi penyebarluasan (transmisi) teks Alkitab, bukti-bukti arkeologis, dan keakuratan nubuat para nabi.

Bukti-bukti Penyebarluasan (Transmisi)
Teks Alkitab

Meski naskah asli Alkitab tidak ada lagi saat ini, transmisi teks Alkitab—lestarinya naskah-naskah salinan Alkitab dalam sejarah—dibandingkan dengan buku-buku sejarah lainnya menimbulkan kepercayaan kepada klaim bahwa teks Alkitab yang kita baca saat ini, demi semua tujuan praktisnya, sama dengan teks aslinya.

Di dalam buku Evidence That Demands a Verdict, Josh McDowell mengaku bahwa ketika melakukan penyelidikan untuk membuktikan bahwa Alkitab tidak akurat secara historis, ia sampai pada keputusan berikut: “Saya akhirnya menyimpulkan bahwa keputusan tidak menerima Alkitab pasti disebabkan oleh bias, prasangka, atau tidak pernah membacanya sama sekali. Sebagai hasil penyelidikan tersebut, saya menyadari bahwa kata yang paling tepat untuk menggambarkan Alkitab adalah unik.” McDowell melanjutkan dengan menunjukkan keunikan naskah-naskah Alkitab dari dokumen-dokumen sejarah yang lain dalam hal kelestarian dan jarak waktu antara naskah awal dan naskah salinan yang beredar saat ini. Seperti karya sastra mana pun, makin banyak salinan yang masih ada dan makin dekat tahun penulisan naskah yang dimiliki dengan naskah aslinya, makin mudah kita merekonstruksi naskah yang asli dan mengenali kesalahan-kesalahan penyalinan yang masuk ke dalam teks. Mari kita cermati Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru secara terpisah.

Perjanjian Lama

Sebelum tahun 1947, naskah-naskah Ibrani tertua dari Perjanjian Lama yang masih lestari terdapat dalam Naskah Masoret yang berasal dari tahun 826 M. Kumpulan naskah tersebut sangat penting sehingga Alkitab bahasa Inggris saat ini menggunakan Naskah Masoret untuk menerjemahkan Perjanjian Lama. Namun, pada tahun 1947, sejarah berubah ketika seorang anak lelaki Badawi menemukan sebuah sistem lorong gua di daerah Qumran yang berisi ratusan guci tanah liat berisi gulungan-gulungan naskah dari sekitar tahun 250 SM. Gulungan-gulungan tersebut, yang di kemudian hari dikenal sebagai Gulungan Naskah Laut Mati, sebagian besar ditulis dalam bahasa Ibrani dan berisi bagian-bagian dari semua kitab Perjanjian Lama kecuali kitab Ester dan Nehemia. Penemuan Gulungan Naskah Laut Mati memperpanjang jarak keabsahan teks Perjanjian Lama hingga kira-kira seribu tahun ke belakang. Dan, jika dibandingkan dengan naskah-naskah yang membentuk Naskah Masoret, isi naskah Gulungan-Gulungan Laut Mati hampir sama. Saat ini, jumlah total gulungan Perjanjian Lama yang masih lestari berjumlah sekitar 42.000. Lebih jauh lagi ke belakang, pada tahun 1979 ditemukan beberapa gulungan perak di Yerusalem yang di atasnya tertulis teks Bilangan 6:24-26. Gulungan-gulungan tersebut ditulis dalam aksara Ibrani kuno (Paleo-Ibrani) dan berasal dari sekitar tahun 625 SM. Di dalam gulungan-gulungan itu kita menemukan nama pribadi Allah, yaitu YHWH, dan sebagian kitab-kitab Taurat dari masa sebelum pembuangan ke Babel.

Perjanjian Baru

Karena banyaknya naskah Perjanjian Baru yang masih lestari dan banyaknya kutipan-kutipan Kitab Suci yang dicatat oleh bapa-bapa gereja mula-mula, Perjanjian Baru secara keseluruhan jauh lebih unggul dari semua pustaka (Barat) lainnya. Sebagai contoh, naskah Perjanjian Baru yang paling awal diketahui, yang berasal dari sekitar tahun 125 M, adalah Papirus John Rylands yang disebut P52, yang berisi Yohanes 18:31-33 dan 37-38. Seluruh naskah yang tersisa saat ini, yang berisi bagian-bagian dari Perjanjian Baru, berjumlah antara 15 hingga 20 ribu, tidak termasuk fragmen-fragmen koleksi pribadi. Sebagai perbandingan, jumlah salinan yang masih lestari dari karya-karya sastra seperti Iliad, karangan Homer, Gallic Wars, karangan Caesar, dan Annals, karangan Tacitus sangat sedikit.

Mengingat para sejarawan menerima keakuratan karya-karya sekuler ini meskipun naskah aslinya sudah tidak ada lagi saat ini, mengapa Perjanjian Baru, dengan sejumlah besar dokumen yang masih ada, harus ditolak? Secara keseluruhan, naskah Perjanjian Baru memiliki sejarah transmisi yang luar biasa dibandingkan dengan naskah lain yang dipandang sebagai replika yang dipercaya dari tulisan-tulisan masa lalu.

FAKTA DARI PEMBUKTIAN ARKEOLOGI

Selama abad ke-19 dan awal abad ke-20, studi arkeologi sangat berkembang pesat. Banyak arkeolog pada masa itu percaya bahwa Alkitab adalah dokumen sejarah dan menggunakan studi arkeologi untuk menunjukkan bahwa peristiwa, orang, dan tempat yang disebutkan di dalamnya adalah akurat secara historis. Pada akhir abad ke-20, muncul generasi arkeolog baru yang bekerja dengan asumsi yang berbeda. Banyak dari mereka tidak memandang Alkitab sebagai dokumen sejarah dan mulai menafsirkan temuan-temuan mereka secara berbeda. Saat ini, para arkeolog dari kedua kelompok yang bekerja di Tanah Suci membuat beberapa penemuan luar biasa yang terus mendukung catatan Alkitab.

Salah satu contohnya dapat ditemukan dalam referensi yang dibuat dalam Daniel 5:1-7 di mana Belsyazar berjanji untuk menjadikan orang yang dapat menafsirkan tulisan tangan di tembok sebagai orang ketiga tertinggi di kerajaan. Banyak sejarawan yang menyerang kitab Daniel karena mengatakan bahwa Belsyazar adalah raja Babel, padahal sejarah menunjukkan bahwa pada masa itu Babel diperintah oleh seorang bernama Nabonidus. Namun, dengan ditemukannya Silinder Nabonidus yang ditemukan di Ur pada tahun 1854 M, diketahui bahwa Nabonidus memiliki seorang putra bernama Belsyazar, yang ia jadikan sebagai orang kedua di kerajaan karena raja menghabiskan sebagian besar waktunya di Arab. Dengan demikian, alasan mengapa Belsyazar berjanji untuk menjadikan orang yang dapat menafsirkan tulisan tangan di dinding sebagai orang ketiga tertinggi di kerajaan, dan bukan orang kedua, adalah karena dia telah memegang posisi itu. Penemuan Silinder Nabonidus menegaskan keakuratan Daniel 5:1-7 karena Belsyazar sebenarnya adalah penguasa Babel dan mampu memberikan kehormatan sebagai orang ketiga tertinggi di kerajaan itu kepada orang lain. Penemuan arkeologi lain yang mendukung keandalan sejarah Alkitab dan menjelaskan keakuratan catatan Alkitab meliputi:

  • Penemuan relief pahatan di Asyur yang menegaskan catatan Alkitab tentang pengepungan Yehuda, seperti yang tercatat dalam Yesaya 36:1-2.
  • Keberadaan Sargon II, seorang pemimpin Asyur lainnya (disebutkan di dalam Yes. 20:1-6), yang merebut Kerajaan Israel Utara pada tahun 722 SM. Meski namanya tidak ditemukan di luar catatan Alkitab, pada tahun 1843, sebuah patung banteng bersayap dan berkepala manusia dengan berat 10 ton dan tinggi 15 kaki, yang dikaitkan dengan Sargon II, ditemukan bersama dengan sebuah prasasti yang menggambarkan penaklukannya atas Kerajaan Israel Utara.
  • Penemuan fondasi kursi bema di kota Korintus, yang dahulu dipakai untuk memberi penghargaan kepada para atlet atau mengadili orang-orang yang melakukan kejahatan, mengonfirmasi kisah Paulus di dalam Kisah Para Rasul 18:12-17 ketika ia dibawa ke hadapan para pemimpin kota untuk mempertanggungjawabkan imannya kepada Kristus.

Penelitian arkeologis menegaskan keakuratan naskah Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Selain itu, penemuan-penemuan baru yang membuktikan keberadaan orang-orang, tempat-tempat, dan peristiwa-peristiwa di dalam Alkitab terus bermunculan.

Bukti Penggenapan Nubuat

Apakah nubuat itu? Secara sederhana, nubuat merujuk kepada pernyataan yang meramalkan suatu peristiwa sebelum peristiwa itu terjadi. Alkitab adalah satu-satunya kitab dalam sejarah yang secara akurat dan konsisten meramalkan peristiwa-peristiwa di masa depan. Sementara transmisi teks Alkitab dan penemuan-penemuan arkeologis membuktikan keandalan historis Alkitab, penggenapan nubuat Alkitab membuktikan pengilhamannya sebagai karya sastra yang dikaruniakan Allah. Selain itu, penggenapan nubuat menegaskan rajutan narasi yang menjalin seluruh Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, yaitu sebuah kisah yang dimulai setelah penciptaan dan berlanjut hingga penutupan zaman dalam kitab Wahyu. Kenyataannya, kisah Alkitab tidak dapat diceritakan tanpa pernyataan-pernyataan nubuat yang mengharapkan apa yang dijanjikan atau diperingatkan Allah akan terjadi.

Di dalam Kejadian 3 kita membaca tentang peristiwa kejatuhan manusia ke dalam dosa karena perbuatan Adam dan Hawa. Atas bujuk rayu si ular, Adam dan Hawa memakan buah Pohon Pengetahuan yang Baik dan yang Jahat, yang secara khusus telah dilarang Allah. Sebelum mengusir mereka dari taman Eden, Allah mengumumkan tiga kutuk: satu kepada Adam, satu kepada Hawa, dan satu lagi kepada ular. Kutuk kepada ular adalah ia akan menjalar di atas tanah seumur hidupnya, dan di masa depan seorang akan meremukkan kepalanya. Melalui pengumuman janji atau nubuat tersebut, kisah agung di dalam Alkitab tentang penebusan Allah atas umat manusia dimulai. Sosok yang akan datang itu, atau Mesias sebagaimana nantinya Dia disebut, beberapa kali dinubuatkan dalam Perjanjian Lama, dan akhirnya digenapi dalam diri Yesus yang datang sebagai Raja atas Israel dan Penebus dunia.

Di dalam Kejadian 12, cerita berlanjut dengan Abraham dan janji Allah bahwa Ia akan membuat namanya besar, memberinya tanah, membuat keturunannya menjadi sebuah bangsa, dan memberkati semua orang melalui dia. Di dalam diri kedua belas anak dari cucu Abraham, Yakub, kita mulai melihat pembentukan sebuah bangsa. Namun, janji Allah bahwa Ia akan memberkati semua orang melalui Abraham belum terwujud sampai Yesus datang menawarkan keselamatan melalui penyerahan nyawa-Nya sebagai korban penghapus dosa.

Di dalam Kisah Para Rasul 3:24-25, Rasul Petrus mengaitkan kedatangan Yesus dan kematian-Nya dengan janji Allah memberkati semua orang ketika ia berkata kepada orang-orang Yahudi pada zamannya, “Lagi pula, semua nabi yang pernah berbicara, mulai dari Samuel dan yang datang sesudah dia, telah bernubuat tentang zaman ini. Kamulah yang mewarisi nubuat-nubuat itu dan mendapat bagian dalam perjanjian yang telah diadakan Allah dengan nenek moyangmu, ketika Ia berfirman kepada Abraham: Melalui keturunanmu semua bangsa di muka bumi akan diberkati.”

Di dalam Ulangan 18, Musa juga berbicara tentang seorang di masa depan yang akan muncul dan harus didengarkan oleh seluruh Israel. Sekali lagi Petrus menerapkan penggenapan perkataan Musa pada Yesus di dalam Kisah Para Rasul 3:22, “Bukankah telah dikatakan Musa: Tuhan Allah akan membangkitkan bagimu seorang nabi dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku. Dengarkanlah dia dalam segala sesuatu yang akan dikatakan kepadamu.”

Kisah penebusan Allah atas umat manusia terus berlanjut di dalam Perjanjian Lama sampai kepada Daud. Setelah ia mengambil alih kepemimpinan sebagai raja Israel yang kedua, Allah berjanji akan mengaruniakan kepadanya keturunan yang akan menjadi raja yang kekal dan memerintah atas kerajaan yang kekal (2Sam. 7:12-13). Di dalam Matius pasal yang pertama, Yesus dikaitkan dengan Daud sebagai keturunannya; dan di dalam Roma 1, Paulus mengatakan bahwa selain sebagai keturunan Daud secara jasmani, Ia juga adalah Anak Allah. Namun, Lukaslah yang secara langsung mengaitkan nubuat dalam 2 Samuel 7 dengan Yesus. Di dalam Lukas 1:31-33, Lukas menceritakan percakapan antara malaikat Gabriel dan Maria: “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dan engkau harus menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Maha Tinggi. Tuhan Allah akan memberikan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” Pada waktu kelahiran-Nya, Yesus mulai menggenapi janji-janji dan nubuat-nubuat tentang Mesias, menegakkan kembali takhta Daud, serta mendirikan kerajaan yang kekal di muka bumi pada waktu Ia datang kembali.

Beberapa nabi Israel juga berbicara tentang Mesias yang akan datang, yang akan menyelamatkan orang-orang dari dosa mereka dan memerintah atas kerajaan Daud. Nabi Yesaya, di dalam Yesaya 7:14, berbicara tentang seorang yang akan lahir dari anak dara dan menyandang gelar Imanuel, yang berarti “Allah beserta kita.” Di dalam Yesaya 9:6-7, Orang yang sama akan dikaruniakan pemerintahan dan disebut Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, dan Raja Damai. Dan, di dalam Yesaya 53, sang nabi berbicara tentang seorang Hamba yang menderita, yang akan menanggung sengsara kita, memikul penderitaan kita, tertikam oleh pemberontakan kita, diremukkan oleh dosa-dosa kita, dan yang kepada-Nya ditimpakan kejahatan kita semua.

Nubuat pertama dan ketiga dari nubuat yang disampaikan oleh Yesaya digenapi dalam diri Yesus menurut Matius dan Petrus. Di dalam Matius 1:18-24, Matius mencatat kisah kelahiran Yesus dan menjelaskan bahwa Anak yang dikandung Maria berasal dari Roh Kudus, dan itu terjadi untuk menggenapi apa yang pernah difirmankan Allah melalui nabi-Nya. Matius kemudian mengutip Yesaya 7:14, yang mengatakan bahwa seorang anak dara akan mengandung dan menamai Dia Imanuel.

Di dalam 1 Petrus 2:24, Petrus memakai perkataan dari Yesaya 53 dan menerapkan gambaran tentang hamba yang menderita kepada perbuatan Yesus bagi kita. Petrus menulis, “Ia [Yesus] sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh karena bilur-bilur-Nya kamu telah disembuhkan.”

Nubuat kedua yang disebutkan Yesaya di dalam pasal 9, bahwa pemerintahan akan ada di pundak-Nya, belum digenapi secara fisik dan politik. Namun, Nabi Zakharia berbicara tentang suatu hari ketika “air hidup akan mengalir dari Yerusalem” dan “TUHAN akan menjadi Raja atas seluruh bumi.”

Nubuat-nubuat lain di dalam Perjanjian Lama juga berbicara tentang masa depan Israel dan Mesias yang akan datang. Salah satu yang paling terkenal adalah nubuat yang diterima Daniel di negeri pembuangan mengenai 70 minggu profetis, atau 70 kali 7 tahun, yang ditetapkan atas bangsa Israel dan kota Yerusalem.(6) Di dalam nubuat tersebut, Daniel diberitahu bahwa dari sejak diberikannya panggilan untuk membangun kembali kota Yerusalem, yang terjadi pada tahun 445/444 SM, sampai dengan terbunuhnya Mesias adalah 69 minggu, atau 483 tahun. Kenyataan ini menempatkan penggenapan atas terbunuhnya Mesias pada masa ketika Yesus disalibkan.

Mikha 5:2 menubuatkan di mana Sang Penebus akan dilahirkan. Itu sebuah fakta yang diketahui oleh para pemimpin agama pada masa kelahiran Yesus, karena ketika ditanya oleh Herodes di mana Mesias akan dilahirkan, mereka menjawab di dalam Matius 2:5, “Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi.”

Bahkan di sepanjang kehidupan, pelayanan, dan kematian-Nya, Yesus menggenapi beberapa nubuat. Beberapa di antaranya adalah bahwa Ia akan dipanggil keluar dari Mesir (Hos. 11:1), yang diterapkan Matius pada Yesus di dalam Matius 2:14-15; bahwa Ia akan mengajar dengan perumpamaan (Mzm. 78:1-2); bahwa pelayanan-Nya akan dimulai di Galilea (Yes. 9:1-2), yang diterapkan pada Yesus di dalam Matius 4:15-16 dan Yohanes 2:11; bahwa Dia akan dikhianati demi tiga puluh keping perak seperti yang dicatat dalam Zakharia 11:12-13, yang digenapi dalam Matius 26:15; dan bahwa orang-orang yang menyalibkan Dia akan membagi-bagi dan berjudi untuk mendapatkan pakaian-Nya (Mzm. 22:18), yang dikatakan Rasul Yohanes terjadi di tempat Yesus disalibkan (Yoh. 19:23-24).

Perjanjian Baru juga berisi pernyataan-pernyataan nubuat, beberapa di antaranya telah tergenapi dan beberapa yang lain belum. Dari semua yang telah tergenapi, kita hanya perlu melihat pernyataan Yesus tentang kehancuran Bait Suci yang akan segera terjadi ketika itu. Di dalam Matius 24:2, sambil menunjuk Bait Allah, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Tidak satu batu pun di sini akan dibiarkan di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.” Bagi para pendengar-Nya pada zaman itu, itu sepertinya mustahil. Namun, nubuat Yesus selaras dengan apa yang pernah ditulis Daniel hampir lima ratus tahun sebelumnya. Dan, pada tahun 70 M, Jenderal Titus datang ke Yerusalem dan menghancurkan Bait Suci seperti yang telah dinubuatkan.

Nubuat-nubuat Perjanjian Baru lainnya berkaitan dengan akhir zaman yang belum tergenapi, seperti kedatangan kembali Kristus ke bumi, pengharapan akan kebangkitan dari orang mati, dan janji tentang tubuh yang dimuliakan bagi para pengikut Yesus.

Mungkin contoh terbesar dari nubuat yang telah digenapi pada zaman kita adalah berdirinya kembali negara Israel pada tahun 1948. Beberapa orang melihat hal tersebut sebagai penggenapan atas Yehezkiel 37:24-27 di mana Allah berjanji akan membawa Israel kembali dari negeri-negeri di mana Dia telah mencerai-beraikan mereka. Belum pernah ada bangsa, yang begitu sering menjadi target pemusnahan, bisa kembali berkumpul setelah tersebar di seluruh dunia selama hampir dua ribu tahun.

Dari contoh-contoh di atas, kita melihat bahwa Alkitab adalah sebuah kitab profetis yang berbicara tentang berbagai nubuat, beberapa telah tergenapi dan beberapa belum. Setiap nubuat tersebut berkontribusi terhadap narasi agung Alkitab dan membuktikan bahwa Alkitab adalah sebuah kitab yang unik.

Seluruh isi Alkitab penting, dan kita harus memperlakukannya demikian. Jadi, ketika Anda membaca Alkitab, pahamilah bahwa Alkitab bukanlah ciptaan manusia, melainkan diilhamkan oleh Allah, dikonfirmasi secara historis dan arkeologis, serta akurat nubuat-nubuatnya. Alkitab adalah kitab yang kata-katanya dapat diandalkan dan dapat dipercaya.

Materi Pelajaran

Transkrip