Kuliah
Pertanyaan paling mendasar yang dapat diajukan dan dijawab bagi diri sendiri adalah, “Apakah Allah itu ada?” Mayoritas penduduk dunia percaya kepada sejenis kuasa yang lebih tinggi. Namun, karena banyak ketidaksepakatan tentang siapa atau apa kekuatan yang lebih tinggi tersebut, pertanyaan tentang keberadaan Allah harus dijawab berdasarkan pemahaman kita tentang istilah Allah. Dalam pelajaran ini, kita akan menggunakan istilah tersebut untuk merujuk kepada suatu wujud yang tinggal di luar ruang waktu, bersifat kekal, berkuasa mutlak, dan yang menciptakan alam semesta dan segala isinya dari ketiadaan—namun berbeda dari alam semesta.
Alasan mengapa pertanyaan tentang keberadaan Allah begitu penting adalah karena implikasi dari dua kemungkinan jawabannya. Jika jawabannya adalah tidak, yaitu Allah itu tidak ada, maka umat manusia hanyalah produk dari serangkaian mutasi acak yang bersifat kebetulan dan karenanya, tidak memiliki kewajiban untuk hidup sesuai dengan parameter moral yang objektif. Selain itu, tanpa keberadaan Pencipta, konsep tujuan, makna, dan nilai intrinsik manusia juga menjadi tidak ada. Jika Allah itu tidak ada, maka hidup manusia tidak memiliki tujuan atau makna yang lebih tinggi daripada sekadar eksis untuk waktu yang singkat sebelum lenyap.
Namun, jika jawabannya adalah ya, yaitu Allah itu ada, maka umat manusia terikat pada Pencipta keberadaan mereka dan bertanggung jawab untuk mematuhi hukum moral apa pun yang Ia berikan. Namun, inilah salah satu alasan mengapa banyak orang menolak keberadaan Allah. Pada umumnya, manusia tidak ingin mengubah cara hidupnya, tetapi ia selalu ingin hidup sesuai dengan keinginannya. Pada bulan Oktober 2008, sebuah kampanye di kota di London, Inggris, menampilkan sebuah pesan di sisi-sisi bus kota, “Mungkin Allah itu tidak ada. Jadi, berhentilah khawatir dan nikmati hidup Anda.” Sentimen demikian membawa konsekuensi serius dan mengingatkan kita pada kata-kata dalam Mazmur 14:1, “Orang bebal berkata dalam hatinya: ‘Tidak ada Allah’.”
Beberapa orang mengatakan bahwa kepercayaan kepada keberadaan Allah tidak rasional karena kita tidak dapat berinteraksi dengan-Nya melalui pancaindera kita Justru sebaliknya, kepercayaan kepada Allah adalah sebuah perspektif yang sangat rasional untuk memahami dan menafsirkan dunia sekitar kita. Faktanya, rasionalitas yang digunakan untuk memercayai keberadaan Allah adalah rasionalitas yang sama yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti yang akan kita lihat nanti.
Meski keberadaan Allah mungkin tidak dapat dibuktikan sebagai fakta yang dapat kita sentuh dengan tangan atau kita lihat dengan mata kita, ada banyak bukti keberadaan Allah di dalam dunia ciptaan melalui apa yang disebut sebagai wahyu umum—mengacu pada penyingkapan diri Allah melalui apa yang telah Ia ciptakan. Di dalam Mazmur 19:1-5, pemazmur menuliskan, “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi pesan mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi.”
Menurut pemazmur, meski dunia sekitar kita tidak berbicara secara verbal kepada kita, itu tetap menyampaikan banyak hal tentang Sang Pencipta. Rasul Paulus mengangkat pemikiran ini di dalam pembukaan suratnya kepada jemaat di Roma ketika ia berkata tentang Allah, “Sebab, sifat-sifat-Nya yang tidak tampak, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat tampak dan dipahami dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. Sebab, sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya, pikiran mereka menjadi sia-sia, dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka menyatakan diri berhikmat, padahal mereka telah menjadi bodoh. Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang melata.” (Rm. 1:20-23).
Di situ Paulus memberitahu para pembacanya bahwa sifat-sifat Allah yang tidak tampak, kuasa-Nya yang kekal, dan keilahian-Nya dengan jelas diperlihatkan di dunia, meski banyak orang menolak mengakui informasi ini dan menghormati Allah, serta memilih menyembah aspek-aspek ciptaan dan mengabaikan Penciptanya. Terhadap hal ini, Paulus mengatakan bahwa orang-orang tersebut “tidak dapat berdalih” dan telah menjadi orang-orang bodoh, yang hidup dalam pikiran mereka yang sia-sia.
Alam semesta menyatakan keberadaan Allah; dan bila kita memeriksanya dengan saksama, kita dapat menyimpulkan secara rasional bahwa alam semesta mencerminkan realitas Sang Pencipta. Ketika digabungkan, penemuan-penemuan itu—yang diambil berdasarkan bukti dan alasan—menyatakan sebuah argumen kebenaran. Makin banyak kesimpulan yang digunakan untuk mendukung sebuah argumen kebenaran, makin besar kemungkinan argumen itu benar. Selain kesimpulan, iman juga adalah unsur penting yang mendasari pemikiran dan pemahaman kita, bukan hanya menyangkut keberadaan Allah tetapi juga dunia sekitar kita.
Menurut penulis kitab Ibrani, iman didefinisikan sebagai “dasar dari segala sesuatu yang diharapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak dilihat”. Setiap kali kita minum air, kita menerapkan iman dalam kadar tertentu karena kita tidak tahu dari mana air tersebut berasal atau proses apa yang telah dijalaninya sampai air itu tiba pada kita. Namun, dengan iman, pengalaman, dan pemikiran logis, kita percaya bahwa air tersebut aman untuk dikonsumsi, dan berdasarkan kesimpulan itu kita meminumnya.
Namun, iman seperti apa yang sedang kita bicarakan? Tentu bukan iman yang buta, melainkan iman yang berpengetahuan, yang mempertimbangkan pemahaman menyeluruh tentang suatu masalah, pengalaman historis, dan kemampuan bernalar. Akibatnya, ketika kita minum seteguk air, kita mempertimbangkan pengetahuan kita tentang di mana kita berada, apakah kita pernah mengonsumsi air dari lokasi tersebut, dan kesaksian, jika ada, dari orang lain yang pernah mengonsumsi air tersebut dan masih hidup untuk membicarakannya. Dengan menggunakan informasi kolektif tersebut, kita secara logis menyimpulkan bahwa meminum air tersebut adalah sebuah kegiatan yang aman. Meski begitu, kita tetap menggunakan iman dalam kadar tertentu ketika memutuskan akan minum air itu atau tidak.
Atau, bayangkan seorang siswa yang diperkenalkan pada tabel periodik, yaitu sebuah daftar yang berisi semua unsur penyusun dunia sekitar kita yang telah diketahui. Bagaimana siswa tersebut tahu bahwa semua unsur yang tercantum di tabel itu benar-benar ada? Kecil kemungkinan bahwa setiap siswa akan melihat atau menguji semua unsur tersebut untuk memvalidasi keberadaannya sebelum menghadiri kelas ilmu pengetahuan alam. Namun, siswa tersebut menerima bahwa informasi dalam tabel periodik itu benar dengan memercayai kesaksian sejarah sains dan kepercayaan terhadap guru mereka. “Kepercayaan” itulah yang kita maksud dengan “iman”.
Pada contoh di atas, bukti yang dikombinasikan dengan iman adalah bagian dari proses percaya. Pada akhirnya, seorang siswa harus menerapkan kepercayaan dalam kadar tertentu, atau iman, untuk memercayai bahwa informasi yang tercatat dalam tabel periodik itu akurat karena dia tidak dapat memastikan kebenarannya secara mandiri. Demikian juga, ketika kita bepergian ke tempat yang baru, kita menerapkan iman ketika minum air berdasarkan pemahaman kita tentang lokasi tersebut.
Namun, bagaimana hal itu dapat diterapkan terhadap kepercayaan kepada Allah? Ketika kita melihat dunia sekitar kita, dari tingkat mikro hingga makro, kita melihat bahwa keberadaan Allah paling baik dalam menjelaskan apa yang kita amati di alam. Menurut William Lane Craig, keberadaan Allah dapat menjelaskan bukan hanya asal mula dan keberadaan alam semesta tetapi juga kesempurnaan pengaturan alam semesta yang tampak jelas, keberadaan hukum moral yang objektif, dan realitas kehidupan yang ditransformasikan yang sarat tujuan dan makna. Mari kita periksa hal-hal tersebut secara terpisah.
Pertama, keberadaan Allah paling baik menjelaskan asal mula dan keberadaan alam semesta. Untuk menunjukkan hal ini, kita hanya perlu memeriksa tiga opsi yang mungkin dalam menjelaskan keberadaan alam semesta: 1) alam semesta muncul dari ketiadaan; 2) alam semesta selalu ada; atau 3) alam semesta diciptakan oleh suatu makhluk di luar ruang dan waktu yang membentuk alam semesta.
Pilihan pertama—bahwa alam semesta muncul dari ketiadaan—bertentangan dengan prinsip dasar sebab-akibat. Dengan kata lain, “Anda tidak bisa mendapatkan sesuatu dari ketiadaan.” Alam semesta tidak muncul begitu saja dari ketiadaan. Bahkan teori Big Bang harus mengakui bahwa sebuah objek tunggal bermassa sangat besar yang mengandung materi yang diketahui, yang kemudian meledak dan menghasilkan alam semesta, yang muncul dari suatu tempat.
Pilihan kedua—bahwa alam semesta selalu ada—dibantah oleh kenyataan bahwa tidak ada objek, baik sel, manusia, planet, galaksi, maupun alam semesta secara keseluruhan, yang bersifat abadi. Alam semesta pasti memiliki permulaan, karena jika memiliki usia yang tak terhingga, maka kita tidak akan pernah bisa tiba pada saat ini untuk membicarakannya. Untuk sampai pada titik waktu mana pun, diperlukan sebuah titik awal, bukan sebuah kemunduran tanpa batas. Karena itu, usia alam semesta tidak mungkin tak terhingga; ia memiliki permulaan, yaitu sebuah titik di mana ia menjadi ada.
Karena dua pilihan pertama tersebut gagal menurut ilmu pengetahuan dan logika, satu-satunya pilihan untuk menjelaskan keberadaan alam semesta adalah bahwa ada satu makhluk di luar alam semesta yang menciptakan segala sesuatu—sebuah makhluk yang keberadaannya tidak bergantung pada apa pun. Ini adalah penjelasan yang terbaik atas persoalan dari mana alam semesta dan segala isinya berasal.
Kedua, keberadaan Allah paling baik dalam menjelaskan kesempurnaan pengaturan alam semesta. Meski kita akan membahas pernyataan ini lebih dalam di pelajaran selanjutnya, untuk saat ini penting untuk dicermati bahwa banyak fisikawan berbicara tentang keteraturan alam semesta, sehingga memungkinkan kehidupan terjadi seperti sekarang ini. Dari dunia mikro partikel fisik hingga dunia makro yang meliputi planet, bintang, dan galaksi, kehidupan di alam semesta berada dalam parameter yang tepat, yang jika diubah sedikit saja akan menyebabkan kehidupan berhenti total. Menurut Lewis dan Barnes dalam buku A Fortunate Universe, bahkan besaran muatan listrik yang presisi dari proton-proton dan elektron-elektron pembentuk atom, yang merupakan bahan penyusun semua materi, sangat penting dalam mempertahankan kehidupan. Jika besaran listrik tersebut berubah sedikit saja, kehidupan tidak akan berlanjut.
Luasnya alam semesta, kompleksitas DNA, sifat-sifat unik sel hidup, dan dunia kuantum partikel-partikel subatomik yang menakjubkan, yang terus coba dipahami oleh para fisikawan, semuanya menunjukkan sosok Perancang cerdas yang membuat segala sesuatu menjadi ada. Menurut Paulus di dalam Kolose 1:16-17, Allah, melalui Yesus, tidak hanya menciptakan segala sesuatu, tetapi juga menyatukan segala sesuatu. Ilmu pengetahuan dan iman tidak saling bertentangan, tetapi justru saling melengkapi. Ilmu pengetahuan berusaha memahami apa yang telah Allah ciptakan, sedangkan iman berusaha memahami siapa Allah itu. Kesempurnaan pengaturan alam semesta menghasilkan kepercayaan kepada sosok Perancang cerdas yang menciptakan dan membentuk alam semesta dengan sangat spesifik.
Ketiga, keberadaan Allah paling baik dalam menjelaskan keberadaan hukum moral yang objektif. Ketika berbicara tentang hukum moral, kita mengacu pada seperangkat nilai-nilai moral dasar yang berlaku bagi semua orang, bukan sebuah pernyataan yang berhubungan dengan preferensi pribadi. Anda mungkin pernah mendengar pernyataan, “Apa yang benar bagi Anda belum tentu benar bagi saya.” Meski itu benar ketika kita berbicara tentang jenis makanan yang disukai seseorang, gaya pakaiannya, atau bagaimana ia ingin menghabiskan liburannya, itu tidak berlaku bagi pertanyaan seperti “Apakah membunuh atau menyiksa orang yang tidak bersalah itu salah? Apakah menyiksa anak kecil itu salah? Apakah memperkosa itu salah?” Semua orang bisa saja menyetujui ketidakadilan dan kebobrokan dari perbuatan-perbuatan tersebut. Namun, mengapa kita setuju bahwa semua perbuatan itu sebenarnya salah?
Ketika menghadapi hal itu, beberapa orang tidak memercayai hukum moral universal yang berlaku bagi semua orang di setiap budaya; sebaliknya, mereka percaya bahwa cita-cita moral bersifat subjektif dan berasal dari pilihan pribadi yang dipengaruhi oleh budaya setempat atau proses evolusi biologis. Orang yang memegang pandangan dunia semacam itu, yang disebut Relativisme Moral, harus mengakui bahwa nilai-nilai moral dan etika yang didasarkan pada preferensi pribadi dan konteks budaya tidak memiliki otoritas atau signifikansi yang nyata dan objektif, tetapi hanya merupakan pendapat individual tentang bagaimana kehidupan seharusnya berjalan.
Mereka yang menganut Relativisme Moral juga harus mengakui bahwa nilai-nilai moral semua budaya sama-sama valid, sekalipun nilai-nilai moral tersebut bertentangan satu sama lain, karena, seperti yang mereka yakini, nilai-nilai moral berasal dari budaya. Pada intinya, pandangan Relativisme Moral menyatakan bahwa kebenaran moral bersifat relatif, bukan absolut.
Kegagalan pandangan Relativisme Moral tergambar paling jelas dalam peristiwa Holocaust. Selama Perang Dunia II, para pemimpin Jerman percaya bahwa pembunuhan sistematis terhadap lebih dari enam juta orang Yahudi adalah hal yang baik. Saat ini hampir semua orang, kecuali dibimbing oleh ideologi tertentu, akan mengatakan bahwa upaya pemusnahan terhadap orang-orang Yahudi adalah salah. Namun, pandangan dunia yang meyakini Relativisme Moral tidak dapat mengatakan bahwa Holocaust salah karena, dalam perspektif mereka, benar dan salah adalah pilihan pribadi yang berbasis budaya dan tidak absolut. Bagi mereka, moralitas tidak bersifat universal dan tidak diberikan oleh Pencipta yang memberi makna dan tujuan hidup.
Hanya keberadaan Allah yang menciptakan segala sesuatu, yang memberi dasar bagi seperangkat nilai moral dasar yang mendiami dan berlaku bagi semua orang dalam segala situasi, yaitu nilai-nilai moral yang memungkinkan manusia untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Jika Allah tidak ada, maka umat manusia hanyalah produk mutasi yang terjadi secara kebetulan, dan konsep baik dan jahat hanyalah cita-cita yang dibangun sewenang-wenang tanpa landasan objektif.
Keempat, keberadaan Allah paling baik menjelaskan tentang realitas kehidupan yang mengalami transformasi sehingga memiliki tujuan dan makna. Argumen ini berbeda dari tiga argumen sebelumnya karena tidak bergantung pada argumentasi yang objektif, melainkan pada pengalaman. Argumen tersebut paling bersifat pribadi dan subjektif di antara keempat argumen lainnya, tetapi adalah yang terkuat karena dapat menjawab pertanyaan apakah Allah dapat dikenal dan dialami secara pribadi. Berbagai kesaksian tentang hidup yang diubahkan dapat ditemukan di sepanjang sejarah. Salah satu contoh terbaik adalah Rasul Paulus. Sebelum bertemu dengan Yesus dalam perjalanannya menuju Damsyik, ia adalah penganiaya orang-orang Kristen. Namun, setelah bertemu dan menerima Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan, Paulus menjadi penyebar agama Kristen yang paling lantang, dan menulis 13 dari 27 kitab yang membentuk Perjanjian Baru.
Perjanjian Baru berbicara tentang transformasi rohani yang terjadi ketika seseorang bertemu dan berbalik kepada Allah untuk memperoleh keselamatan dalam banyak cara. Dalam suratnya kepada jemaat di Kolose, Paulus menulis bahwa orang-orang yang telah menyerahkan hidupnya kepada Kristus telah dilepaskan “dari kuasa kegelapan dan [Allah] memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang terkasih” (Kol. 1:13). Kepada jemaat di Roma, ia menulis, “Sebab, semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambar Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu dibenarkan-Nya. Mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya” (Rm. 8:29-30). Beberapa ayat lain dapat disebutkan di sini, tetapi gagasan umum yang disampaikan dalam Perjanjian Baru adalah bahwa Allah ingin berelasi secara pribadi dengan manusia; sebuah relasi di mana mereka diubahkan menjadi makin serupa dengan gambar Yesus. Di dalam Yakobus 4:8 kita diingatkan tentang relasi yang diinginkan itu, “Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu.”
Perlu dicatat bahwa transformasi rohani yang disebutkan di dalam Alkitab berbeda dengan hasrat terhadap suatu ideologi semata, keterlibatan dalam sebuah gerakan budaya, atau pengabdian terhadap tujuan tertentu. Transformasi yang Allah tawarkan mengubahkan sifat, keberadaan, dan tujuan seseorang. Pengabdian terhadap suatu tujuan dapat ditemukan di sebagian besar agama, bahkan di antara orang-orang ateis. Namun, pengabdian itu tidak sama dengan apa yang digambarkan di dalam Alkitab. Apa yang Allah tawarkan adalah jiwa yang diperbarui dengan harapan, tujuan, dan makna.
Faktanya, tanpa keberadaan Allah, kehidupan tidak akan memiliki tujuan atau makna yang nyata. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang dapat melihat melampaui keberadaan mereka sendiri kepada sesuatu yang lebih besar dan lebih tinggi dari diri mereka sendiri. Craig menulis tentang manusia, “Di antara semua makhluk hidup, manusia mengantisipasi kematiannya. Itu menghasilkan sebuah paradoks yang aneh: manusia berharap akan masa depan, tetapi pada waktu yang sama ia tahu bahwa masa depan membawa kematian selangkah lebih dekat. Paradoks tersebut menunjukkan bahwa sama seperti mengetahui kematiannya yang akan datang merupakan sifat alami manusia, begitu pula sifat alaminya mengharapkan kehidupan setelah kematian.”
Tanpa keberadaan Allah, manusia adalah makhluk kosmis yang tak bertuan, sebuah kecelakaan alam, produk mutasi evolusi yang tidak memiliki makna hidup yang nyata. Namun, karena Allah ada, manusia memiliki pengharapan akan kehidupan di luar kehidupan saat ini, akan sosok Pribadi yang dengan sengaja dan rumit menciptakan segala sesuatu, dan yang, menurut Alkitab, ingin berelasi secara pribadi dengan mereka.
Berdasarkan empat argumen di atas, kita dapat mengatakan bahwa kepercayaan kepada keberadaan Allah, meski pada akhirnya diakui oleh iman yang berdasar pengetahuan, merupakan pandangan yang masuk akal dalam melihat dunia sekitar kita. Keberadaan Allah dapat menjelaskan asal-usul, keluasan, kerumitan, dan kesempurnaan pengaturan alam semesta; alasan mengapa ada hukum moral bawaan di dalam diri semua manusia—entah ia memutuskan mengakui hukum tersebut atau tidak; dan realitas hidup yang telah ditransformasikan oleh kuasa dan kehadiran Sang Pencipta.
Keberadaan Allah tidak dapat dibuktikan seratus persen, namun tidak seorang pun dapat menyangkal keberadaan-Nya. Meski demikian, konstruksi alam semesta menunjukkan Allah terlibat dalam ciptaan-Nya. Selain itu, Alkitab juga merupakan sumber yang tidak hanya memberitahu kita bahwa Allah itu ada, tetapi juga siapa Dia sesungguhnya.